Breaking News
Loading...
Minggu, 29 September 2013

Tattoo dari tinta austria

SurabayaTato dengan warna tinta permanen, mulai diperkenalkan para seniman tato. Seperti yang dilakukan yusepthia soewardy, seniman tato dari bandung yang berpameran di lt. Dasar plaza tunjungan 3, mulai kemarin. Selain warna tak berubah, menurut kent – panggilan yusepthia – permukaan kulit yang ditato juga tidak akan bergelombang bila tato sudah mengering.
 
“ada banyak tinta tato yang beredar di pasaran. Tapi, ternyata tidak semua tinta tato sesuai dengan kondisi kulit kita,” terang lelaki yang lebih dari dua puluh tahun berkecimpung di dunia seni tato ini.
 
Salah satu ciri tinta tato yang cocok dengan jenis kulit, kata kent, adalah tinta itu cenderung mudah mengering dan warnanya tidak berubah setelah tato mengering. “Kalau tinta biasa, butuh waktu sepuluh hari untuk mengeringkan tato. Namun bila tintanya cocok dengan kulit, dalam waktu lima hari tato akan langsung kering,” tambah bapak satu anak ini.
 
Selain itu, dengan jenis mesin tato yang terbaru, tinta hanya masuk pada lapisan epidermis, sehingga tidak akan membuat bekas luka. “Mesin yang baru ini sudah di – setting berapa dalam akan menyentuh kulit, tinta hanya masuk pada lapisan epidermis,” lanjut kent yang mengaku sering mentattoo artis –artis ibu kota ini.
 
Seorang pengunjung sempat mengajukan pertanyaan kepada kent. “Kalau sudah terlanjur ditato, apa bisa hilang?” tanya seorang perempuan berambut panjang sambil menunjukkan tato di lehernya.
 
“Bisa. Bisa pakai sinar laser atau ditimpa dengan tinta tato yang sesuai dengan jenis kulit. Jadi seolah-olah seperti tidak bertato,” jawab lelaki yang datang ke surabaya tiga bulan sekali ini.
Pameran tato permanen yang berlangsung sampai 7 juli mendatang tersebut menarik perhatian pengunjung plaza. Apalagi ketika kent mempraktekkan tato di lengan seorang pengunjung.
 
“Aduh, apa tidak sakit ya?” komentar seorang ibu sambil bergidik keheranan melihat demo tato itu.
 
Berapa rupiah untuk membuat tato permanen seperti itu? “Kita mengikuti standar internasional dengan menghitung harga per centi meter persegi.” Terang kent tanpa mau menyebut nilai pastinya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Toggle Footer